I’tikaf, Ibadah Dahsyat yang Selalu Terlewatkan..

I’tikaf, Ibadah Dahsyat yang Selalu Terlewatkan..
*Herman Budianto, MSi

Sahabat yang dimuliakan Allah, Ramadhan sudah tinggal 10 hari lagi. Diujung Ramadhan kita sudah mengetahui adanya waktu I’tikaf yang menjanjikan kebaikan yang sangat dahsyat yaitu Lailatul Qadr yang ibadah pada saat itu lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun, akan terampuni dosa kita walau seluas lautan, setinggi pegunungan dan mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.

Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).

An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)

Sahabat…sedahsyat itu kemurahan Allah kepada kita, sebaik itu Allah kepada kita, sesayang itu Rosulullah kepada kita agar kita semua bisa terhindar dari siksa api neraka, masuk dalam surga bersama Rosulullah kekasih kita. Tetapi apakah kita sudah bisa menyambut kesempatan emas tersebut?

Banyak diantara kita yang meninggalkan kesempatan itu dengan berbagai sebab, yaitu tidak memahami ilmu dengan baik, lemahnya keimanan,  kesibukan pekerjaan, kesibukan membuat kue lebaran, pulang kampung dan alasan lainnya yang bersifat duniawi..

Padahal Rosulullah sudah memberikan contoh yang terbaik bagaimana menjalankan I’tikaf pada 10 hari terakhir bahkan beliau I’tikaf 20 hari ketika menjalang wafat L


عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في العشر الأواخر من رمضان.
Ibnu Umar, ra berkata: “Rosulullah melakukan i’tikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhori dan Muslim)

عن عائشة رضى اللّه عنها: كان النبى صلى الله عليه وسلم يعتكف فى كل رمضان عشرة أيام ، فلما كان العام الذى قبض فيه اعتكف عشرين يوما ، واعتكف أزواجه من بعده . رواه البخارى ومسلم

Dari Aisyah ra, : “Rasulullah melakukan i’tikaf setiap bulan ramadhan selama sepuluh hari, maka ketika di tahun menjelang wafatnya, Rasulullah beri’tikaf dua puluh hari. Dan istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” ( HR. Bukhori & Muslim)

Sahabat..Rosulullah yang terjaga dari dosa memberikan contoh terbaik kepada kita dengan melakukan perjuangan I’tikaf yaitu beribadah penuh di masjid meninggalkan kesibukan dunia, fokus dengan mendekatkan diri kepada Allah dalam sholat, tilawah al Quran, dzikir dan ibadah lain agar Allah memberikan rahmat dan ridho Nya kepada kita semua. Beliau meninggalkan kesenangan dunia bersama istri-istri, mengurangi tidur dan makan agar dapat dicontoh oleh kita, ummatnya…

Sahabat sekalian, beliau yang maksum melakukan ibadah yang dahsyat, lalu bagaimana dengan kita?

Tidakkah kita tergerak untuk mengikuti ibadah Rosulullah agar kita yang begitu banyak dosa mendapatkan karunia berupa malam lailatul qadar, mendapatkan ampunan dari Allah, mendapatkan rahmat Allah?

Kalaulah kita belum mampu melakukan I’tikaf secara penuh 10 – 20 hari, maka mari kita sempatkan I’tikaf semampu kita di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah, insya Allah yang sedikitkan akan memberikan kebaikan kepada kita seperti yang disebutkan dalam hadits dibawah ini walau sebagian ulama tidak menshohinkan hadits tersebut, tetapi dapat dijadikan penyemangat ibadah kita.


Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhu: “Barang siapa beri’tikaf satu hari karena mengharap keridhoaan Allah, Allah akan menjadikan jarak antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat. (HR. Thabrani, Baihaqi dan dishohihkan oleh Imam Hakim)

Ya Allah ampunilah kelemahan hati kami..kuatkan hati kami agar dapat semakin baik ibadah kami pada 10 hari terakhir Ramadhan ini, lembutkan hati kami dari kerasnya menerima kebaikan, karuniakan kepada kami pahala lailatul qadr, karunia kami ampunan Mu, rahmat Mu, dan kebagiaan baik di dunia dan akhirat. aamiin ya mujibassailin


Spiritkehidupan.com





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keseimbangan Dalam Hidup (Tawazun)

Menukar Uang Receh untuk Lebaran, Dosa atau Tidak?

Empat Hal Tanda Bahagia Di Dunia Dalam Islam