Mencaci Maki

Sedang ramai berita seorang warga mencaci maki Gubernur NTB dg cacian yg sangat menghinakan.

Sangat sedih tentu mendengar berita ini. Hanya karena salah paham masalah antrian tega mencaci maki dg sangat kasar dan merendahkan. Sehingga banyak yg tahu apa maksud kata Tiko (tikus kotor/babi anjing).

Sebagai seorang muslim maka jangan membalas dengan cacian tetapi silakan kalau memproses secara hukum. Ajaran Islam sangat mulia dan umat Islam sangat mulia.

Beberapa hadits Rosulullah memberikan penjelasan tentang bahaya mencaci yg bisa kembali kepada diri kita sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya. Sebaik-baik (kualitas) keimanan kaum mukminin adalah mereka yang paling baik akhlaqnya…..” (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat -ed) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi.” (HR. Abu Daud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada Bapak Gubernur NTB yg sholeh dan kepada kita semua, semoga Steven mendapat hidayah dari Allah. Aamiin

Salam santun
Herman Budianto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keseimbangan Dalam Hidup (Tawazun)

Menukar Uang Receh untuk Lebaran, Dosa atau Tidak?

Empat Hal Tanda Bahagia Di Dunia Dalam Islam